9 Januari 2010

Kalimantan Timur dan Suku Dayak

Kalimantan Timur berada pada garis katulistiwa 40 L.U. dan 20 L.S. Di sebelah barat dan utara berbatasan dengan Malaysia Timur, di sebelah timur dengan selat Makasar, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Daerahnya terdiri dari daerah pantai, daerah pedalaman dan dataran rendah. Sebagian besar wilayahnya berhutan lebat yang menghasilkan kayu dan hasil hutan lainnya seperti rotan, damar dan lain-lain. Di samping kayu Kalimantan Timur kaya pula dengan hasil tambang terutama miyak dan gas bumi.

Kalimantan Timur merupakan daratan raksasa dengan hutan lebat yang tak ada batasnya dan dibelah oleh sungai-sungai besar dan anak-anak sungai dari utara ke selatan, dan timur ke barat. Sungainya sangat banyak sekitar 161 batang sungai, dengan sungai Mahakam, Kandilo, Kayou, Segah dan sungai Sesayap sebagai sungai terbesar. Karenanya sungai di propinsi ini mempunyai peranan penting di bidang komunikasi, walaupun lalu lintas jalan darat antar wilayah di Kalimantan Timur sudah ada, namun masih terbatas sekali.

Di daerah Kalimantan Timur selain berdiam suku-suku pendatang dari pulau Jawa, Sulawesi dan pulau-pulau lain, sebagian besar didiami oleh penduduk asli yang terdiri dari suku Kutai, suku Dayak dan suku Banjar. Suku Dayak yang mendiami pedalaman Kalimantan Timur terbagi dalam beberapa sub suku yakni Dayak Kenyah, Dayak Modang, Dayak Punang dan Dayak Benuag. Di antara suku-suku Dayak tersebut, suku Kenyah lah yang banyak mempunyai kelompok. Suku Dayak Kenyah menurut adat terdiri dari empat kasta di bawah kekuasaan raja, yakni Kasta Paren yaitu kaum bangsawan, kasta Tetaaw juga kaum bangsawan, kasta Panyin yakni rakyat biasa, serta kasta Ulaq yaitu kasta kaum budak. Sekarang perbedaan kasta-kasta sudah tidak ada lagi, namun orang masih mengenal secara baik siapa yang masih keturunan bangsawan.

Kalimantan Timur mempunyai peninggalan sejarah yang cukup terkenal, yaitu Kutai dengan rajanya Mulawarman, satu masa dengan kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat. Selain itu juga kerajaan-kerajaan lainnya seperti kerajaan Pasir Balengkung, Kerajaan Tabur dan kerajaan Sambaliung di kabupaten Beran, kerajaan Tanjung Palas di kabupaten Bukungan dan kerajaan Hindu di Goa Kong Beng di kabupaten Kutai.

Bekas-bekas kerajaan tersebut saat ini dijadikan museum Negara maupun daerah, kecuali bekas kerajaaan Tanjung Palas dan bekas kerajaan Hindu tua di Goa Kong Beng yang belum dipugar. Penduduk asli Kalimantan Timur semula mempunyai kepercayaan animisme dan dinamisme, kemudian dengan masuknya agama Hindu mereka menganut ajaran Hindu. Kini banyak yang memeluk agama Islam maupun Kristen.

Waulaupun begitu kepercayaan mereka yang lama belum dapat mereka tinggalkan begitu saja. Hal ini terlihat pada upacara-upacara yang mereka lakukan sebagian besar masih berhubungan dengan sistem kepercayaan mereka yang lama. Masyarakat suku Dayak mengenal aneka ragam upacara, seperti tiwah, ijaruki, nyolat isan dan sebagainya. Selain itu juga dikenal upacara adat penerimaan tamu, adat perkawinan, upacara adat pengobatan atau Bekan dan upacara adat sesudah panen yang disebut ngungu tahun.

Di bidang seni, daerah Kalimantan Timur mempunyai corak ragam yang berbeda. Seni sastra suku Dayak selalu berhubungan dengan seni suara, karena riwayat atau cerita selalu disampaikan dengan lagu, yang disebut mausana. Seni suara lainnya adalah Mangandan yaitu lagu pujian untuk tamu, memanjung yakni seni suara pada upacara kematian, dinyanyikan dengan iringan gong, kemudian seni suara mematih yaitu lagu-lagu pujian yang dinyanyikan sesudah orang meninggal dunia, dan lain-lain. Sedangakan seni tarian pun beraneka ragam, seperti tarian penyambut tamu, tari Kacut Julut, tari Gong, ketiganya dari Dayak Kenyah, tari Perang suku Dayak Bahau, tari Bangun dari Kutai, tari Pilin Tali suku Daya Tunjung, tari Ganggereng atau tarian muda-mudi dan lain-lain.

Hasil-hasil kerajinan suku Dayak mempunyai nilai seni yang tinggi dengan warna-warna yang sangat menarik, seperti kerajinan tenunan pakaian suku Dayak Benuag, anyaman manik-manik, anyaman rotan, macam-macam ukiran dari tulang binatang dan pahatan patung tradisional yang digunakan untuk keperluan upacara adat tradisioal, serta benda-benda kerajinan lainnya. Barang-barang kerajinan tersebut semula hanya dipergunakan bagi keperluan hidup sehari-hari, seperti mandau untuk menebang pohon, tombak untuk berburu dan lain-lain. Kini barang-barang tersebut banyak diperjualbelikan pada toko Souvenir.

Di bidang seni lukis dapat dilihat pada lukisan-lukisan yang ada di perahu, dinding-dinding rumah serta bangunan lain, juga pada perisai-perisai dan sebagainya. Umumnya lukisan tersebut memakai waran-warna cerah yakni kuning, merah, biru, dan putih. Seperti halnya suku Dayak di Kalimantan pada umumnya, suku Dayak di daerah Kalimantan Timur membuat rumah tradisional berbentuk rumah di atas tiang yang sangat panjang, karena untuk bertempat tinggal berpuluh-puluh keluarga.

-----

Rumah adat suku Dayak disebut lamin. Lamin merupakan rumah panggung yang sangat panjang sambung-menyambung. Panjang rumah adat lamin antara 100-200 meter, lebar 15-25 meter, jarak tiang 4-5 meter, tiang panggung 3-5 meter. Pada rumah adat tersebut, terdapat tangga yang dapat dinaik-turunkan. Manfaat dari menaik-turunkan tangga tersebut, agar terhindar dari serangan musuh, binatang buas dan juga terhindar dari banjir. Ruang bawah dari rumah adat lamin digunakan untuk memelihara ternak. Rumah adat tersebut ditempati puluhan keluarga—bahkan dapat menampung sampai 200 orang—sebagaimana rumah tradisional suku Dayak pada umumnya. Perbedaan hanya terletak pada nama dan rinciannya. Seluruh bahan bangunan dari kayu ulin berwarna hitam yang tahan lama.

Tata ruang lamin merupakan rangkaian bangunan yang sama, terdiri atas ruang los panjang yang berfungsi sebagai tempat pertemuan, pelaksanaan upacara adat, serta tempat tidur bagi laki-laki, pemuda, dan tamu laki-laki. Di kanan-kiri ruang depan terdapat bilik berderet-deret yang merupakan tempat tidur keluarga dan anak-anak gadis, sedangkan dapur untuk memasak dan tempat makan keluarga berada di belakang bilik-bilik tidur.

Hiasan lamin berupa ukiran yang mengandung makna dan lambang tertentu, berupa stilisasi pola bangun-berulang, pilin, dan kait-berkait membentuk hiasan abstrak dan khas, misalnya ular naga, burung enggang, cumi-cumi, serta topeng dan kerangka manusia. Bagi orang Dayak, naga merupakan lambang kesaktian, kekuatan, dan kepahlawanan; enggang melambangkan ketinggian derajat, keluhuran budi, dan sekaligus lambang kebangsawanan; cumi-cumi lambang kerakyatan; sedangakan topeng dan kerangka manusia lambang kedamaian. Warna-warna yang digunakan adalah kuning, merah, biru, dan putih, yang mengandung arti keagungan, keberanian, pengabdian, dan kesucian.

Di depan lamin terdapat dua deret patung manusia dan hewan sebagai penjaga lamin beserta seluruh penghuninya, beberapa di antaranya terdapat binatang, seperti kera dan buaya, di atas kepalanya. Menurut kepercayaan Dayak, patung yang menghadap ke timur atau arah matahari terbit mempunyai kekuatan membantu mendatangkan rejeki dan kebaikan, sedangkan patung yang menghadap ke selatan mempunyai fungsi sebagai penolak bala atau roh jahat yang akan mengganggu. Patung-patung itu dinamakan sambang lawing dalam bahasa Dayak Tunjung. Di dekat patung terdapat blontang, tiang kayu tingggi untuk mengikat atau menambatkan binatang korban (biasanya kerbau atau sapi) dalam upacara adat.


Sumber: TMII

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar